Sungai Batang Sinamar mengalir deras. Sungai ini membelah sebagian kabupaten 50 kota dari Barat ke Timur dan bermuara di sungai Indragiri. Di zaman penjajahan Belanda, sungai ini dipakai sebagai jalur perniagaan Kopi, antara pedalaman Minangkabau dan Selat Malaka. Ramai orang berniaga ketika itu, antara Koto Tangah, koto kecil, koto tuo, dan koto Baru dalam kabupaten yang sama, Srimalanggang adalah kota pelabuhan dan entreport perniagaan kopi yang dikumpul dari pedalaman Minangkabau, dari Mahat, Mbonang, Mungka, Kubang, Tigobalai atau tigo nenek, Tigo batu,Batu Hampar dan Payakumbuh. Kawasan ini disebut juga Hulu Kampar. Ada banyak pekan di tiap kota yang dilalui sungai ini, seperti Pekan Sanayan, Pekan Selasa, dan Pekan Rabu. Pekan ini berfungsi sebagai pusat perniagaan di zaman dahulu-sebelum didirkannya kota Pekan tua di Palalawan dan kota Pekan Baru.
Rute perniagaan sepanjang hulu sungai Kampar menuju entreport berikutnya, harus melalui Sarilemak. Untuk mencapai Sarilemak diperlukan 2 atau 3 hari perjalanan dengan Pedati yang ditarik Kerbau. OLeh karena itu, antara kota-kota Pedalaman di Limapuluh Kota - Srimalanggang adalah kota Pelabuhan Sungai yang terdekat. Karena itu, seiring dengan tumbuhnya Palalawan dengan pekan tuanya- maka kota Srimalanggang pun tumbuh sebagai pos penampungan yang datang dari pedalaman Minangkabau. Antara Palalawan ke Kota Baru diperlukan waktu perjalanan antara satu bulan. Ada juga rute lain antara Palalawan dan Pangkalan Kapas, yakni Kuntu. Diantara kota-kota ini mengalir anak-anak Sungai Kampar Kanan di Utara dan Sungai Idragiri ke Selatan yang semuanya bermuara di Pantai Timur Sumatera.
Sebelum zaman Islam, kata Indra dianggap sebagai jelmaan dewa Sywa. Jadi Indragiri artinya sungai Indra, dan Indrapura adalah kota Indra yang dipimpin oleh seorang MaharajaIndra yang juga diartikan sebagai penjelmaan kepemimpinan dewa Syiwa. Maharaja Indra kemudian berobah konsonan menjadi Majo Indo, ialah cikalbakal gelar Datuk Majo Indo yang sampai sekarang dipakai di Tanah Minangkabau, situs kepurbakalaan nenek dari Datuk Majo Indo Yang pertama ada di LImbanang Koto Laweh.ialah keturunan Sri Dharmapala yang sampai ke hulu Kampar sekitar tahun 1224 M.Keturunan -keturunan Datuk Maharaja Indra kemudian menyebar di bagian Timur MInangkabau dan bahkan sampai ke tanah Semenanjung menjadi salah seorang datuk di luak Jelebu, negeri Sembilan. Malaysia.
Rute perniagaan sepanjang hulu sungai Kampar menuju entreport berikutnya, harus melalui Sarilemak. Untuk mencapai Sarilemak diperlukan 2 atau 3 hari perjalanan dengan Pedati yang ditarik Kerbau. OLeh karena itu, antara kota-kota Pedalaman di Limapuluh Kota - Srimalanggang adalah kota Pelabuhan Sungai yang terdekat. Karena itu, seiring dengan tumbuhnya Palalawan dengan pekan tuanya- maka kota Srimalanggang pun tumbuh sebagai pos penampungan yang datang dari pedalaman Minangkabau. Antara Palalawan ke Kota Baru diperlukan waktu perjalanan antara satu bulan. Ada juga rute lain antara Palalawan dan Pangkalan Kapas, yakni Kuntu. Diantara kota-kota ini mengalir anak-anak Sungai Kampar Kanan di Utara dan Sungai Idragiri ke Selatan yang semuanya bermuara di Pantai Timur Sumatera.
Sebelum zaman Islam, kata Indra dianggap sebagai jelmaan dewa Sywa. Jadi Indragiri artinya sungai Indra, dan Indrapura adalah kota Indra yang dipimpin oleh seorang MaharajaIndra yang juga diartikan sebagai penjelmaan kepemimpinan dewa Syiwa. Maharaja Indra kemudian berobah konsonan menjadi Majo Indo, ialah cikalbakal gelar Datuk Majo Indo yang sampai sekarang dipakai di Tanah Minangkabau, situs kepurbakalaan nenek dari Datuk Majo Indo Yang pertama ada di LImbanang Koto Laweh.ialah keturunan Sri Dharmapala yang sampai ke hulu Kampar sekitar tahun 1224 M.Keturunan -keturunan Datuk Maharaja Indra kemudian menyebar di bagian Timur MInangkabau dan bahkan sampai ke tanah Semenanjung menjadi salah seorang datuk di luak Jelebu, negeri Sembilan. Malaysia.
Dalam adat beraja-raja di Minangkabau, pemakaian kata Sri dimulai dari Sri Dharmapala Raja, keturunan berikutnya memakai gelar Sri Maharaja, Maharaja Besar dan Raja Dibalai. Keempat nenek itu meninggalkan bukti sejarah di koto Laweh.Mereka adalah anak-anak raja Chulan yang namanyapun di abadikan pada sebuah nama jalan di Kuala Lumpur.
Oleh karena itu tidak bisa dipungkiri, bahwa orang-orang pedalaman Minangkabau dari Luak 50 kota sudah menjalin hubungan perniagaan dengan Selat Malaka sejak lama, bahkan punya hubungan keluarga yang erat. Dari situlah, masyarakat dari kampung Tigo Batu, Tigo Nenek, Srimelanggang, Kubang, Sarilemak, dan Payakumbuh mulai hijrah ke tanah Melayu yang kemudian mendirikan nama kampung dan suku yang sama dengan nama kampung asal mereka yang berkembang sampai hari ini terutama di Negeri Sembilan- Malaysia dan bahkan menjadi Raja di sana.
Salah seorang dari keturunan raja di Negeri Sembilan yang berasal dari Kabupaten 50 kota, adalah Ahmad Tungga. Beliau adalah anak Yam Tuan Imam, berasal dari Kampung Tido Batur yang hijrah ke Srimenanti. Ahmad Tungga adalah nama samaran dari Tuanku Ibrahim yang lari dari tahanan Belanda ketika kampung Tigo Batur di bumi hanguskan oleh Belanda dalam tahun 1862. Ia melarikan diri dengan seorang anak, dan mamaknya Datuk Magek Malintang melalui jalan setapak di Tigo Batur.
Ahmad Tungga, adalah ayah dari Tuanku Besar Burhanuddin di Srimenanti, ialah kakek dari Tuanku Ampuan Najihah adik beradik. Tentu saja adalah kakek dari Duli Yang Maha Mulia Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan ketika ini. Rupa-rupanya, sejarahpun pandai berdusta dan setelah 148 tahun terlena, maka kesilapan itupun terkuak ketika seorang muda di Negeri Sembilan, bernama Ahmad Husaini BIn Hamzah bin Muhammad Illyas bin Jamin bin Ahmad Tungga ternyata tak rela ketika nama kakeknya yang jelas bermakam di komplek makam raja-raja di Srimenanti tiba-tiba hilang tak berimba. Ia pun balik ke Tanah Pangkal Minangkabau menelusuri tapak rumah sang kakek yang dulu ditinggalkan.dengan membawa duplikat kebesaran yang dulu dipakai sang kakek, ia pulang menyerahjkan kembali kepada ninik mamak Balai Di Hulu, Situjuh Banda Dalam.Adat di isi Limbagopun di tuang.
Ketika inilah, gayung-pun bersambut. Sepakat Ninik Mamak dan pemuka adat di Balai Adat Situjuh Banda Dalam, sepakat ninik mamak di Balai Paranginan Koto Tangah, sepakat pula ninik mamak di Balai Nan Panjang Koto Laweh, tak kurang pembenaran sejarah dan pengukuhan dari pembenaran penelusuran yang dilakukan di Amini ketua LKAAM 50 kota Dr.Alis Marajo Datuk Sori Marajo beserta jajarannya, dan di hadiri dua Bupati sekaligus, ialah Bupati Tanah Datar Ir.M Shadig Pasadigoe SH dan Bupati Kabupaten 50 Kota bertempat di Balai Nan Panjang Koto Laweh, sdr.Ahmad Husaini BIn Hamzah bin Muhammad bin Jamin bin Ahmad Tungga resmi kembali memakai gelar Tuanku Raja Besar- dengan dikukuhkan bersama seorang Montinya Rangkayo Bosa Batuah untuk dibawa kembali ke Negeri sembilan Malaysia.
Alis Marajo Datuk Sori Marajo pun bernafas lega, karena sejak delapan tahun yang lalu beliau rupanya sudah merintis penelusuran yang sama. Mantan Bupati Kabupaten 50 kota ini dimasa jabatannya bahkan telah merintis jalan lama yang dahulu dipakai sebagai jalan pintas dari Srimalanggang ke pantai Timur Sumatera. Jalan itu dinamai masyarakat kabupaten 50 kota sebagai Jalan Tuanku Nan Garang, walaupun hanya jalan setapak yang tak selesai tetapi mampu menguak tabir dan bukti sejarah yang sesungguhnya.
Bagaimana tidak? cobalah bagi anda yang terbiasa melancong ke Negeri Sembilan di Malaysia atau anda yang warega Malaysia dan kebetulah membaca uraian ini, cobalah melaju dari Srimenanti ke Kuala Pilah. Di dekat pusat bandar berbeloklah anda ke kiri memasuki Kampung Talang. Atau anda terus saja ke Batu Kikir. Cobalah anda terus ke Kampung Tapak, Kampung Tangah, Kampung Talang, dan Bukit Tempurung. Sesungguhnya asal mula nama kampung Tapak di sana adalah berasal dari orang-orang yang hijrah pada sebuah kampung Taeh Bukik yang memiliki situs Batu Tapak dimaksud.